Siaran Pers
Api Di Lahan Sejumlah Perusahaan Kembali Mengancam Riau
Jakarta - WWF-Indonesia kembali merekam tebaran hotspot dalam frekuensi tinggi di Provinsi Riau tahun ini, sebagian besar berada di lahan sejumlah perusahaan besar. Kabut asap mengganggu kesehatan masyarakat dan mengancam kelestarian keanekaragaman hayati. Sementara itu, anjuran PEMDA bagi warga untuk memakai masker tak banyak membantu. Tanpa tindakan tegas, bencana semacam ini akan terus melanda Provinsi Riau secara rutin dari tahun ke tahun.
Kabut asap semakin tebal di provinsi Riau. Menurut data yang diperoleh WWF dari Satelit Modis , teridentifikasi 2812 hotspots yang tersebar di beberapa kabupaten di Riau termasuk Kepulauan Riau. Kabupaten Bengkalis teridentifikasi memiliki jumlah hotspots tertinggi yaitu 1324 hotspots. Hotspots tersebut tersebar dibeberapa konsesi perkebunan hutan tanaman industri yang ada di provinsi Riau, dia ntaranya: APP 4 hotspots, Mitra APP 17 hotspots, RAPP 1 hotspot, Mitra RAPP 9 hotspots. Lebih jauh lagi, sebagian hotspot berada di lahan perusahaan-perusahaan yang telah dinyatakan terbukti melakukan pembakaran lahan pada 2003 oleh Pemerintah Provinsi Riau (daftar perusahaan terlampir).
Pemantauan satelit Modis menunjukkan bahwa sejak awal tahun ini hotspots kembali mulai bermunculan, diawali terindentifikasinya 143 hotspots pada minggu ke 3 Januari, hingga melambung menjadi hampir 3000 hotspots menjelang akhir Februari ini. Kota Pekanbaru telah tertutup kabut asap selama satu minggu terakhir. “Alat pemantau indeks pencemaran udara kota Pekanbaru dalam minggu terakhir menunjukkan angka dari 100 sampai 400,” ujar Nazir Foead, Species Program Director, WWF-Indonesia. Keadaan ini mengindikasikan udara sudah tidak sehat dan bahkan sangat tidak sehat, sehingga menurut data Dinas Kesehatan Riau sebagaimana dikutip oleh harian Riau Pos lebih 1990 warga mengalami gangguan infeksi pernapasan atas. Selanjutnya Nazir menyampaikan bahwa “Sebaran hotspots juga teridentifikasi di hutan-hutan bernilai konservasi tinggi yang masih tersisa seperti Kawasan Giam Siak Kecil dan juga di konsesi RAPP dan APP untuk kesekian kalinya.”
Seperti tahun-tahun sebelumnya, pemerintah menganjurkan masyarakat untuk menggunakan masker bila kondisi udara memburuk, bahkan menyarankan sekolah untuk tidak melaksanakan aktifitas belajar mengajar. Hal ini mungkin akan mengurangi jumlah warga yang terserang penyakit saluran pernafasan, tetapi tidak menyelesaikan akar persoalan sama sekali. “Harus ada tindakan tegas dari pemerintah yang benar-benar memberi efek jera bagi pelaku yang terbukti melakukan pembakaran hutan dan lahan” kata Ian Kosasih, Forest Program Director, WWF-Indonesia, “Tanpa tindakan hukum yang benar-benar tegas, Riau akan terus mengalami bencana kebakaran rutin dari tahun ke tahun”.